MENTAWAI, GARDA PERS.ID — Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai menjadi perhatian di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sejumlah warga, termasuk anak-anak dan remaja, dilaporkan menjalani perawatan di RSUD Tuapejat dengan dugaan maupun kasus DBD positif.
Waspadai BDB. RS.UD Tuapejat
Kondisi tersebut mendorong Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kebersihan lingkungan dan secara rutin melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Lahmuddin Siregar, saat dihubungi Garda Pers.id melalui telepon seluler (HP) pada Sabtu (12/9/2026), mengimbau masyarakat agar tidak hanya mengandalkan fogging dalam menangani penyebaran DBD.
Menurut Lahmuddin, langkah paling penting adalah memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, salah satunya dengan membersihkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang dan lokasi berkembangnya jentik nyamuk.
“Kita harus melakukan gerakan PSN, yaitu Pemberantasan Sarang Nyamuk. Kegiatan ini harus dilakukan secara bergotong royong dengan melibatkan masyarakat untuk membersihkan lingkungan,” ujar Lahmuddin.
Ia meminta masyarakat memeriksa lingkungan sekitar rumah secara rutin, terutama saluran air, tempat penampungan air, kaleng-kaleng bekas, wadah yang menumpuk di sekitar rumah, hingga bagian rumah seperti dapur yang memungkinkan terdapat genangan air.
Tempat penampungan air yang tidak terawat, kata dia, dapat menjadi lokasi nyamuk bertelur dan berkembang menjadi jentik.
“Kalau ada penampungan-penampungan air di rumah dan terdapat jentik, harus segera dikuras dan dibersihkan. Kaleng atau wadah yang dapat menampung air juga harus dikosongkan, ditutup atau dibuang sehingga tidak menjadi tempat nyamuk berkembang biak,” jelasnya.
Fogging Bukan Satu-Satunya Solusi
Lahmuddin menegaskan, penanganan DBD tidak cukup hanya dengan penyemprotan atau fogging. Upaya tersebut harus dibarengi dengan pemberantasan tempat perkembangbiakan nyamuk.
“Sepanjang tempat-tempat perindukan itu masih ada, dilakukan penyemprotan pun nyamuk akan muncul kembali. Karena itu, yang paling penting adalah memutus sumber perkembangbiakannya,” katanya.
Beberapa Pasien Dirawat di RSUD Tuapejat
Sementara itu, berdasarkan pantauan Garda Pers.id, bebrapa pasien disebut sedang mendapatkan perawatan di RSUD Tuapejat terkait DBD, baik dari kalangan anak-anak, remaja maupun orang dewasa.
Dalam keterangannya, Lahmuddin juga menyebut adanya pasien yang baru kembali dari luar daerah dan kemudian mengalami demam. Namun, untuk memastikan sumber penularan, diperlukan penelusuran terhadap riwayat perjalanan dan aktivitas pasien.
Hal tersebut penting agar tidak muncul kesimpulan sepihak mengenai asal penularan DBD sebelum dilakukan pemeriksaan dan penelusuran epidemiuologis oleh petugas kesehatan.
Camat dan Kepala Desa Diminta Bergerak
Lahmuddin berharap gerakan PSN tidak hanya dilakukan secara individu, tetapi menjadi gerakan bersama di tingkat desa dan kecamatan.
Camat dan kepala desa diharapkan dapat menggerakkan masyarakat untuk melakukan gotong royong membersihkan lingkungan, menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, serta menyingkirkan barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Nanti kita sampaikan kepada kepala desa agar gerakan PSN dapat dilakukan bersama-sama oleh masyarakat,” ujarnya.
Dengan mulai munculnya perhatian terhadap kasus DBD di Mentawai, masyarakat diimbau tidak menunggu sampai jumlah pasien bertambah. Pemberantasan sarang nyamuk perlu dilakukan secara rutin dan berkelanjutan, terutama dengan memastikan tidak ada genangan atau wadah yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
Garda Pers.id — Kontrol Sosial, Mengawal Kepentingan Publik. ( Tim Redaksi)



0Komentar