SIKABALUAN — GARDA PERS.ID | Pelaksanaan rehabilitasi sekolah penerima bantuan pascabencana di Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, mendapat sorotan dari pihak sekolah. Sejumlah pekerjaan dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan hasil survei dan kebutuhan bangunan yang mengalami kerusakan.
Alek Sander S.Pd.SD , Pengawas SD Kecamatan Siberut Utara, mengatakan terdapat empat sekolah yang menjadi penerima rehabilitasi pascabencana, yakni SD Negeri 09 Muara Sikabaluan, SD Negeri 01 Malancan, SD Negeri 03 Sobojai, serta SD Swasta Santo Fransiskus Muara Sikabaluan.
Menurut Alek Sandrer , setelah melihat pelaksanaan pekerjaan di lapangan, pihaknya belum merasa puas. Sebab, berdasarkan survei awal, terdapat rencana pembongkaran dan rehabilitasi terhadap bagian bangunan yang mengalami kerusakan. Namun, dalam pelaksanaannya, pekerjaan yang terlihat dinilai belum sesuai dengan hasil survei tersebut.
“Dulu waktu survei, rencananya bangunan ini mau dibongkar. Tetapi pengerjaannya sampai sekarang hanya mengecek dan mengganti plafon,” ujar Alek Sander,S.Pd.SD
Ia juga mempertanyakan tidak adanya papan informasi pekerjaan di lokasi. Menurutnya, ketika pihak sekolah menanyakan keberadaan papan tersebut, pelaksana menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bantuan sehingga tidak perlu memasang papan proyek.
“Kalau kita minta informasi lebih lanjut, kita disuruh ke Kodam,” katanya.
Aleksander berharap rehabilitasi dilaksanakan sesuai dengan hasil survei awal sehingga kerusakan bangunan benar-benar diperbaiki, bukan hanya ditutupi.
“Harapan kita sesuai dengan hasil survei. Kalau memang berdasarkan survei harus dibongkar, ya dibongkar dan direhab dengan benar. Ada papan yang sudah kropos, tetapi tidak diganti,” ujarnya.
Kepala SDN 09 Muara Sikabaluan Keluhkan Sejumlah Pekerjaan
Sementara itu, Piater Sihotang, Kepala SD Negeri 09 Muara Sikabaluan, salah satu sekolah penerima rehabilitasi pascabencana, juga menyampaikan kekecewaannya terhadap hasil pekerjaan.
Piater Sihotang,S.pd.SD, mengatakan sejak awal pihak sekolah telah mempertanyakan sejumlah informasi penting kepada pelaksana, mulai dari papan informasi pekerjaan, jangka waktu pelaksanaan, pihak pengawas hingga pagu anggaran. Namun, menurutnya, informasi tersebut tidak diperoleh pihak sekolah.
“Kami ingin tahu batas pekerjaannya dan berapa pagu anggarannya. Tetapi sampai sekarang kami tidak tahu,” ujar Piatr.
Ia juga mempertanyakan pekerjaan di bagian depan sekolah berupa pengecoran atau pembangunan jalan sekitar dua meter. Menurut Piatr, pekerjaan tersebut bukan merupakan kebutuhan utama yang diharapkan sekolah.
“Bencana yang kami alami di SD Negeri 09 Muara Sikabaluan adalah banjir rob. Yang kami harapkan sebenarnya penimbunan, bagaimana lokasi sekolah ini ditinggikan sehingga tidak terkena banjir,” katanya.
Menurut Piater, pembangunan jalan di bagian depan sekolah justru berpotensi mengganggu aktivitas para siswa karena berada di area halaman sekolah.
Selain itu, ia menyoroti masih adanya sejumlah material kayu yang dinilai sudah lapuk tetapi belum diganti.
“Beberapa kayu yang sudah lapuk tidak diganti. Ada yang hanya dicat. Termasuk kaca-kaca yang rusak dan instalasi listrik yang sudah banyak mengalami kerusakan, sampai sekarang belum diperbaiki,” katanya.
Piater Sihotang,S.Pd. SD, mengatakan pihak sekolah sejak awal telah memberikan dukungan kepada pelaksana pekerjaan. Bahkan, fasilitas sekolah berupa listrik dan air digunakan selama kegiatan berlangsung.
“Kami menerima mereka dengan baik. Tempat kami berikan, listrik sekolah dipakai, air juga kami tanggung. Itu bentuk dukungan kami. Tetapi kami berharap hasil pekerjaannya sesuai dengan kebutuhan sekolah dan hasil survei,” ujarnya.
Piater juga menyebut persoalan tersebut telah disampaikan kepada pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Kepulauan Mentawai. Menurutnya, pihak dinas telah menerima laporan dan melihat langsung kondisi sekolah.
“Kami sudah melaporkan kepada kepala dinas dan sudah diterima. Mereka juga sudah melihat situasi di lapangan,” katanya.
Pihak sekolah berharap rehabilitasi pascabencana tersebut dapat dievaluasi kembali dan dilaksanakan sesuai kondisi kerusakan serta kebutuhan masing-masing sekolah.
Sorotan tersebut terutama menyangkut kesesuaian pekerjaan dengan hasil survei awal, keterbukaan informasi mengenai pekerjaan, penggantian material yang rusak, serta penanganan dampak banjir rob di SDN 09 Muara Sikabaluan.
Untuk menjaga keberimbangan pemberitaan, pihak pelaksana kegiatan dan pihak oknum pelaksanaan ⁹yang disebut mengelola program rehabilitasi tersebut perlu memberikan penjelasan mengenai dasar pekerjaan, pagu anggaran, lingkup rehabilitasi, jangka waktu pelaksanaan, serta alasan tidak adanya papan informasi pekerjaan di lokasi.( *)



0Komentar