SIBERUT UTARA – GARDA PERS.ID | Kondisi akses menuju sejumlah satuan pendidikan di wilayah pedalaman Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, kembali menjadi sorotan. Untuk mencapai salah satu sekolah, tim asesor BAN PDM Sumatera Barat bahkan harus menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor dan dilanjutkan berjalan kaki selama sekitar tiga jam.
Gambaran tersebut disampaikan pada media ini oleh ibu, Dr. Titi Sriwahyuni, M.Eng., Ketua Program Studi Pendidikan Teknik Elektronika Universitas Negeri Padang (UNP), yang bersama Mulyana, M.Pd., Pengawas SD Kota Padang, ditugaskan BAN PDM Sumatera Barat melakukan visitasi sekolah di wilayah Siberut Utara.
Titi menceritakan, perjalanan menuju SDN 20 Malancan yang berada di Dusun Tarekan Hulu harus ditempuh dari Sikabaluan sekitar 20 kilometer menggunakan sepeda motor hingga Srilanggai. Dari Srilanggai, perjalanan tidak dapat dilanjutkan dengan kendaraan sehingga tim harus berjalan kaki selama kurang lebih tiga jam menuju sekolah.
“Ini perjalanan kami ke Dusun Tarekan Hulu lebih kurang 20 KM dari Sikabaluan, jalan pakai motor sampai ke Srilanggai, dilanjutkan jalan kaki selama tiga jamp
sampai ke SDN 20 Malancan,” ujar Titi.
Kondisi medan tersebut juga dirasakan saat tim kembali dari lokasi sekolah. Dalam perjalanan pulang, mereka harus melewati wilayah Srilanggai yang sedang mengalami banjir.
“Pulang dari sana kami harus melewati daerah banjir di Srilanggai,” katanya.
Menurut Titi, dirinya bersama Mulyana merupakan asesor yang mendapat tugas dari BAN PDM Sumatera Barat untuk melakukan visitasi terhadap sekolah-sekolah di wilayah Siberut Utara.
Keluhan Sekolah tentang Hasil Revitalisasi
Persoalan pendidikan di Siberut Utara bukan hanya menyangkut akses menuju sekolah. Kualitas dan kesesuaian hasil pembangunan sarana pendidikan juga menjadi perhatian semua pihak.
Akses Jalan Menjadi Persoalan Serius
Kondisi yang dialami tim asesor saat menuju SDN 20 Malancan memperlihatkan bahwa persoalan akses masih menjadi tantangan besar bagi dunia pendidikan di daerah pedalaman Mentawai.
Perjalanan sekitar 20 kilometer dari Sikabaluan menggunakan sepeda motor, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama tiga jam, menunjukkan bahwa keterjangkauan sekolah masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian pemerintah.
Belum lagi kondisi banjir yang harus dilewati saat perjalanan pulang, yang dapat menambah risiko bagi guru, pengawas, asesor, maupun masyarakat yang melakukan aktivitas dari dan menuju wilayah tersebut.
Bagi masyarakat di pedalaman, akses jalan bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi berkaitan langsung dengan keberlangsungan pelayanan pendidikan. Guru harus dapat mencapai sekolah, peserta didik harus dapat datang dengan aman, sementara pengawas dan petugas pemerintah juga membutuhkan akses untuk melakukan pembinaan serta evaluasi sekolah.
Pemerintah Diminta Tidak Hanya Fokus pada Bangunan
Berbagai kondisi tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam merancang pembangunan pendidikan di Kabupaten Kepulauan Mentawai, khususnya wilayah Siberut pulau Siberut.
Pembangunan sekolah perlu dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya menyediakan gedung dan fasilitas pendidikan, tetapi juga memperhatikan akses jalan, keselamatan perjalanan, ketersediaan sarana pendukung serta kesesuaian pembangunan dengan kebutuhan sekolah.
Perjalanan tim asesor BAN PDM Sumbar ke SDN 20 Malancan menjadi salah satu gambaran nyata bahwa tantangan pendidikan di daerah terpencil masih membutuhkan perhatian serius, Kata Dr. Titi Sriwahyuni, M.Eng., Ketua Program Studi (*)



0Komentar